Sam untuk Someone
Memang tak baik untuk terlalu menyalahkan diri sendiri, tapi ini lah yang hanya bisa kulakukan untuk tidak menyalahkan orang lain yang telah menyelundupkan diri di antara ratusan orang yang ku kenal. Mungkin orang lain tak pernah benar-benar mengetahui betapa beratnya perasaan ini kubawa, hingga terkadang tanpa kusadari badanku telah tertimbun sebagian ke dalam perut bumi. Hiperbolis, ya benar, aku juga menyadarinya. Mungkin perasaan ini memang kuperbesar-besarkan, tapi harus bagaimana lagi jika kenyataannya dalam bingkai nurani ini telah memenjarakan seseorang, hanya seseorang. Untuk tidak membingungkan pembaca yang budiman, kita istilahkan seseorang itu Sam.
“Saaaamm,” gubrak....aku terjatuh dari tangga kos ku. Pertanyaan dan pandangan mbak-mbak kos ku langsung tertuju padaku. Pertanyaan kenapa bisa terjatuh, kujawab karena terpleset. Padahal dengan tiba-tibanya nama Sam melintasi hatiku, jleb, sebayangan wajahnya pun muncul. Yakin kah tidak apa-apa? Pertanyaan itu terlontar karena aku terjatuh dengan debuman yang keras, yah tidak apa-apalah. Sebenarnya ini sangat apa-apa, bagaimana mungkin Sam yang hanya kuingat dalam keseharianku.
Apa yang membuat Sam begitu berbeda, aku pun tidak tahu. Mungkin SUKA, mungkin CINTA. Kenapa bisa? Untuk alasan yang sangat tidak logis mungkin aku SUKA padanya dan mungkin aku jatuh CINTA padanya dan mungkin aku benar-benar MENCINTAINYA.
Aduuh, kenapa perasaan itu muncul pada saat usiaku menginjak kepala dua? Kenapa tidak pada saat aku SMP atau pun SMA. Aah, parah, parah banget. Benar-benar tak terkendali lagi perasaan yang seperti ini. Semua berawal dari bangun tidur. Kenapa bangun tidur? Misteri bangun tidur ini benar-benar sampai saat ini menggangguku. Waktu itu aku terbangun sebelum shalat Shubuh, aku merasakan ada butiran air mata yang mengalir dari kedua mataku dan tiba-tiba saja aku teringat padanya. Pertanyaannya adalah kenapa harus dia yang muncul dalam mimpiku menjelang keterjagaanku? Sam...... tiba-tiba dadaku bergetar, kenapa mesti tiba-tiba?
Ku arahkan kakiku untuk mengambil wudhu, kubasuhkan air ke mukaku, cukup segar namun tidak mengurangi debaran jantungku. Biasanya jika aku cemas, dengan berwudhu saja sudah cukup untuk mengurangi kecemasanku. Yah, mungkin kalau didiagnosa dengan apapun atau dites dengan alat apapun ini sama sekali bukan kategori kecemasan tapi kerinduan. Alah, apaan...ku tak tahu, tapi ingin kumengerti.
Allahuakbar, sampai pada sujudku, Sam, namamu telah berada dalam rincian doa. Ya Allah, meskipun hamba mungkin selama ini tidak pernah khusuk dalam beribadah, dengan keadaan seperti ini membuat hamba benar-benar ingin lari dari kenyataan bahwa Sam mengikuti kenyataan hatiku. Ya Allah, mungkin hamba benar-benar tidak bisa berkonsentrasi pada saat itu, benar-benar menyiksaku. Mungkin ibadahku tidak diterima oleh-Nya, benar-benar keadaan seperti ini membuatku begitu menyadari banyaknya dosa yang kulakukan.
Aku, yang biasanya sulit untuk membicarakan masalah yang intens dengan rasa ‘suka’ pada lawan jenis pun bercerita pada orang lain. Aku berharap rasa yang menyerangku pada waktu itu menghindari kata c.i.n.t.a.
Seiring berjalannya waktu, aku sudah terbiasa dengan perasaan yang mendera ku. Kubiasakan diriku untuk tidak membuka mulutku agar jangan mengucapkan Sam yang jauh di sana. Sudah ter-repres kah dalam alam ketidaksadaranku? Aku berharap, sudah. Tidurlah Sam dalam ketenangan alam bawah sadarku, kumohon janganlah kau terbangun dari sana. Kalau perlu aku berlutut, aku akan melakukan hal tersebut untuk membuatmu tertidur dan jangan pernah terbangun. Jahat, ya pemikiran ku begitu jahat tentang hal ini. Nurani sebagai algojoku, kumohon jaga lah baik-baik Sam. Ini perintah dari rajamu, maka patuhilah.
SAM. SAM. SAM. SAM. SAM. SAM. SAM. SAM. SAM. SAM.SAM. SAM. SAM. SAM. SAM.
Aku menggunakan katarsis ini untuk menghilangkan sedikit demi sedikit dirimu yang telah berada dalam kenyataan hidupku. Melalui tulisan ini aku hanya ingin sedikit berharap, semoga saja aku bisa untuk menendalikan perasaan ini. Terima kasih ku untuk mbak-mbak dan teman-temanku yang sudah mensuport aku untuk mengendalikan perasaan ini. Selama usiaku baru kali ini aku sadar, mengapa orang menangis gara-gara cinta, bahkan ada yang bunuh diri gara-gara cinta, bahagia karena cinta, ge-er karena cinta, takut karena cinta yang berujung kompleksnya dunia karena cinta. Walaupun ini hanya lah cerita (katanya mbak’e mirip kata pengantar dan pendahuluan, tapi cerita ini merupakan skripsi cintaku mbak, hehehehe. Meskipun belum di-acc olehnya, setidaknya aku sudah membuat rencana untuk skripsi kuliahku saja dulu. Wew, gak nyambung.....), aku ingin berkata pada diriku di tahun-tahun nanti seiring pendewasaanku tentang ‘betapa lucunya aku waktu itu’.
Ya Allah,,
Jika salamku tak tersampaikan padanya
Izinkanlah aku tidak mengingatnya
Ya Allah,,
Jika bunga-bunga cinta telah tersebar
Di hatiku,
Izinkanlah aku merawatnya
Meski bukan aku pemiliknya
Ya Allah,,
Jika hatiku jahat untuk tidak bisa melupakannya
Izinkanlah aku dibimbing olehMu
Dan yang paling terpenting yang ingin kusampaikan rasa terima kasihku adalah buat SAM yang telah menyadarkanku bahwa aku juga masih sama dengan yang lainnya. SAM, terima kasih untuk rasa ini.
Memang tak baik untuk terlalu menyalahkan diri sendiri, tapi ini lah yang hanya bisa kulakukan untuk tidak menyalahkan orang lain yang telah menyelundupkan diri di antara ratusan orang yang ku kenal. Mungkin orang lain tak pernah benar-benar mengetahui betapa beratnya perasaan ini kubawa, hingga terkadang tanpa kusadari badanku telah tertimbun sebagian ke dalam perut bumi. Hiperbolis, ya benar, aku juga menyadarinya. Mungkin perasaan ini memang kuperbesar-besarkan, tapi harus bagaimana lagi jika kenyataannya dalam bingkai nurani ini telah memenjarakan seseorang, hanya seseorang. Untuk tidak membingungkan pembaca yang budiman, kita istilahkan seseorang itu Sam.
“Saaaamm,” gubrak....aku terjatuh dari tangga kos ku. Pertanyaan dan pandangan mbak-mbak kos ku langsung tertuju padaku. Pertanyaan kenapa bisa terjatuh, kujawab karena terpleset. Padahal dengan tiba-tibanya nama Sam melintasi hatiku, jleb, sebayangan wajahnya pun muncul. Yakin kah tidak apa-apa? Pertanyaan itu terlontar karena aku terjatuh dengan debuman yang keras, yah tidak apa-apalah. Sebenarnya ini sangat apa-apa, bagaimana mungkin Sam yang hanya kuingat dalam keseharianku.
Apa yang membuat Sam begitu berbeda, aku pun tidak tahu. Mungkin SUKA, mungkin CINTA. Kenapa bisa? Untuk alasan yang sangat tidak logis mungkin aku SUKA padanya dan mungkin aku jatuh CINTA padanya dan mungkin aku benar-benar MENCINTAINYA.
Aduuh, kenapa perasaan itu muncul pada saat usiaku menginjak kepala dua? Kenapa tidak pada saat aku SMP atau pun SMA. Aah, parah, parah banget. Benar-benar tak terkendali lagi perasaan yang seperti ini. Semua berawal dari bangun tidur. Kenapa bangun tidur? Misteri bangun tidur ini benar-benar sampai saat ini menggangguku. Waktu itu aku terbangun sebelum shalat Shubuh, aku merasakan ada butiran air mata yang mengalir dari kedua mataku dan tiba-tiba saja aku teringat padanya. Pertanyaannya adalah kenapa harus dia yang muncul dalam mimpiku menjelang keterjagaanku? Sam...... tiba-tiba dadaku bergetar, kenapa mesti tiba-tiba?
Ku arahkan kakiku untuk mengambil wudhu, kubasuhkan air ke mukaku, cukup segar namun tidak mengurangi debaran jantungku. Biasanya jika aku cemas, dengan berwudhu saja sudah cukup untuk mengurangi kecemasanku. Yah, mungkin kalau didiagnosa dengan apapun atau dites dengan alat apapun ini sama sekali bukan kategori kecemasan tapi kerinduan. Alah, apaan...ku tak tahu, tapi ingin kumengerti.
Allahuakbar, sampai pada sujudku, Sam, namamu telah berada dalam rincian doa. Ya Allah, meskipun hamba mungkin selama ini tidak pernah khusuk dalam beribadah, dengan keadaan seperti ini membuat hamba benar-benar ingin lari dari kenyataan bahwa Sam mengikuti kenyataan hatiku. Ya Allah, mungkin hamba benar-benar tidak bisa berkonsentrasi pada saat itu, benar-benar menyiksaku. Mungkin ibadahku tidak diterima oleh-Nya, benar-benar keadaan seperti ini membuatku begitu menyadari banyaknya dosa yang kulakukan.
Aku, yang biasanya sulit untuk membicarakan masalah yang intens dengan rasa ‘suka’ pada lawan jenis pun bercerita pada orang lain. Aku berharap rasa yang menyerangku pada waktu itu menghindari kata c.i.n.t.a.
Seiring berjalannya waktu, aku sudah terbiasa dengan perasaan yang mendera ku. Kubiasakan diriku untuk tidak membuka mulutku agar jangan mengucapkan Sam yang jauh di sana. Sudah ter-repres kah dalam alam ketidaksadaranku? Aku berharap, sudah. Tidurlah Sam dalam ketenangan alam bawah sadarku, kumohon janganlah kau terbangun dari sana. Kalau perlu aku berlutut, aku akan melakukan hal tersebut untuk membuatmu tertidur dan jangan pernah terbangun. Jahat, ya pemikiran ku begitu jahat tentang hal ini. Nurani sebagai algojoku, kumohon jaga lah baik-baik Sam. Ini perintah dari rajamu, maka patuhilah.
SAM. SAM. SAM. SAM. SAM. SAM. SAM. SAM. SAM. SAM.SAM. SAM. SAM. SAM. SAM.
Aku menggunakan katarsis ini untuk menghilangkan sedikit demi sedikit dirimu yang telah berada dalam kenyataan hidupku. Melalui tulisan ini aku hanya ingin sedikit berharap, semoga saja aku bisa untuk menendalikan perasaan ini. Terima kasih ku untuk mbak-mbak dan teman-temanku yang sudah mensuport aku untuk mengendalikan perasaan ini. Selama usiaku baru kali ini aku sadar, mengapa orang menangis gara-gara cinta, bahkan ada yang bunuh diri gara-gara cinta, bahagia karena cinta, ge-er karena cinta, takut karena cinta yang berujung kompleksnya dunia karena cinta. Walaupun ini hanya lah cerita (katanya mbak’e mirip kata pengantar dan pendahuluan, tapi cerita ini merupakan skripsi cintaku mbak, hehehehe. Meskipun belum di-acc olehnya, setidaknya aku sudah membuat rencana untuk skripsi kuliahku saja dulu. Wew, gak nyambung.....), aku ingin berkata pada diriku di tahun-tahun nanti seiring pendewasaanku tentang ‘betapa lucunya aku waktu itu’.
Ya Allah,,
Jika salamku tak tersampaikan padanya
Izinkanlah aku tidak mengingatnya
Ya Allah,,
Jika bunga-bunga cinta telah tersebar
Di hatiku,
Izinkanlah aku merawatnya
Meski bukan aku pemiliknya
Ya Allah,,
Jika hatiku jahat untuk tidak bisa melupakannya
Izinkanlah aku dibimbing olehMu
Dan yang paling terpenting yang ingin kusampaikan rasa terima kasihku adalah buat SAM yang telah menyadarkanku bahwa aku juga masih sama dengan yang lainnya. SAM, terima kasih untuk rasa ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Posting Komentar